Selasa, 20 November 2012

Jamur Akar Putih.

Penyakit Jamur Akar Putih.

1. Gejala pada tanaman karet akibat JAP (Jamur akar putih)
* Tanaman yang terserang jamur akar putih daun-daunya terlihat kusam, permukaan daun menelungkup, layu dan gugur, adakalanya tanaman membentuk bunga/buah lebih awal.
* Terbentuk buah lebih awal pada tanaman muda yang seharusnya belum cukup waktunya berbuah dan bertajuk tipis.
* Apabila perakaran dibuka maka pada permukaan akar terdapat semacam benang-benang berwarna putih kekuningan menempel dan pipih menyerupai akar rambut yang menempel kuat dan sulit dilepas.
* Gejala lanjut akar membusuk, lunak dan berwarna coklat.
* Mati mendadak seperti tersiram air panas pada musim hujan.
* Serangan lebih lanjut akan membentuk badan buah berbentuk setengah lingkaran yang tumbuh pada pangkal batang. Badan buah berwarna pink dengan tepi berwarna kuning muda atau keputihan.

2. Penyebap terjadinya serangan Jamur akar putih.
* Lahan yang dipenuhi oleh sisa-sisa tanaman hutan atau bekas tanaman karet yang tidak di cabut dan dibakar yang menjadi
sarang koloni JAP.
* Tanaman yang telah terinfeksi tidak di isolasi sehingga akar yang terkena JAP dapat kontak dengan  akar tanaman karet yang sehat.
* Spora jamur yang ada di sekitar perkebunan terbawa angin dan hewan yang dapat menularkan tanaman lain.
* Areal yang memang menjadi habitat JAP.
* Klon karet yang tidak toleran terhadap JAP.

3. Faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit JAP.
Umumnya penyakit jamur akar putih R. lignosus berjangkit dan mengakibatkan banyak kematian pada pertanaman karet muda yang berumur 2-4 tahun. Masalah tersebut umumnya timbul setelah suatu kebun karet diremajakan atau suatu hutan dikonversikan menjadi kebun karet. Timbulnya penyakit akar R. lignosus erat hubungannya dengan kebersihan lahan. Tunggul atau sisa tebangan pohon, perdu dan semak yang tertinggal dalam tanah merupakan substrat R. lignosus. Potensi R. lignosus sangat ditentukan oleh banyaknya tunggul di lahan yang bersangkutan. Lama bertahan R. lignosus dalam tanah disamping ditentukan oleh hal tersebut juga ditentukan oleh ikut sertanya organisme renik yang melapukkan tunggul. Jamur akar putih berkembang dengan baik pada tanah posporus hingga di daerah. Penularan penyakit terjadi karena adanya kontak antara akar sakit dan sehat atau adanya miselium yang tumbuh dari food base di sekitar perakaran tanaman sehat. Lama penularan penyakit pada tanah berpasir dapat bervariasi antara 1-2 tahun.

4. Pengendalian penyakit jamur akar putih.
Pencegahan Penyakit Jamur Akar Putih pada tanaman karet dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
  1. Pembongkaran atau pemusnahan tunggul akar tanaman.
  2. Penanaman bibit sehat. Bibit stum mata tidur yang akan dimasukkan ke polybag atau akan ditanam sebaiknya diseleksi dulu, bibit yang tertular masih dapat digunakan dengan cara mencelupkan bagian perakaran dengan larutan terusi 2%.
  3. Pada areal yang rawan jamur akar putih, yaitu lahan yang terdapat banyak tunggul, tanah gembur dan lembab sebaiknya tanaman ditaburi belerang sebanyak 100-200 gr/pohon selebar 100 cm, yang kemudian dibuat alur agar belerang masuk kedalam perakaran. Pemberian belerang ini diberikan setiap tahun sekali sampai dengan tanaman berumur lima tahun.
  4. Pemupukan yang rutin agar tanaman sehat
Pengendalian penyakit JAP saat ini lebih dititikberatkan pada pengendalian hama/penyakit terpadu (PHT) sejalan dengan peraturan pemerintah tentang Integrated Pest Management (IPM) yaitu dengan menggabungkan beberapa komponen pengendalian seperti kultur teknis, biologis dan kimiawi sebagai berikut:
  1. Menanam klon yang tahan seperti BPM 107, PB 260, PB 330, AVROS 2037, PBM 109, IRR 104, PB 217, PB 340, PBM 1, PR 261, dan RRIC 100, IRR 5, IRR 39, IRR 42, IRR 112 dan IRR 118.
  2. Jarak tanam diatur tidak terlalu rapat.
  3. Cabang/ranting yang telah mati dipotong dan dimusnahkan.
  4. Cabang yang masih menunjukkan gejala awal (sarang laba-laba) segera dioles dengan fungisida Bubur Bordo, Calixin 750 EC atau Antico F-96 hingga 30 cm ke atas dan ke bawah.
  5. Bubur Bordo dan fungisida yang mengandung unsur tembaga tidak dianjurkan pada tanaman yang telah disadap, karena dapat merusak mutu lateks.
  6. Pada kulit yang mulai membusuk harus dikupas sampai bagian kulit sehat.
  7. kemudian dioles fungisida hingga 30 cm keatas dan ke bawah dari bagian yang sakit.

  1. Secara Kultur Teknis
Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan melalui beberapa tindakan diantaranya pengolahan tanah, seleksi bibit, pemeliharaan tanaman dan penanaman kacangan penutup tanah.
a. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah secara mekanis bertujuan untuk menghilangkan sumber infeksi, menyingkirkan tunggul dan sisa-sisa akar tanaman sebelumnya yang dapat menjadi sumber infeksi atau menekan R0. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kenyataan bahwa akar karet berdiameter 1 cm dengan panjang 4 cm cukup untuk menjamin ketersediaan makanan R. lignosus hingga kurang lebih 4 bulan pada tanah tanpa penutup kacangan dan 3 bulan pada penutup tanah kacangan. Oleh sebab itu disamping tunggul, akar-akar lateral perlu dimusnahkan.

b. Seleksi Bibit
Seleksi bibit sebagai bahan tanam merupakan pekerjaan penting yang harus dilakukan, namun pada kenyataannya hal itu selalu diremehkan bahkan diabaikan, sehingga setelah satu tahun bahkan enam bulan ditanam di lapangan banyak tanaman yang mati disebabkan oleh JAP. Hal ini membuktikan bahwa bibit tersebut telah terinfeksi oleh JAP sebelum dipindahkan ke lapangan. Sebagai akibatnya bukan saja biaya pemeliharaan meningkat akan tetapi penyiapan pohon untuk penyisipan selalu menjadi kendala (tidak tersedia).

c. Penanaman Kacangan Penutup Tanah
Pada tahun 1960-an, perkebunan karet dianjutkan agar bebas dari persaingan sehingga tanpa ada gulma di sekitar tanaman. Tetapi hasil penelitian menunjukkan bahwa secara jangka panjang cara tersebut berdampak negatif terutama terjadi erosi akibat hujan. Oleh karena itu kebijaksanaan yang ditempuh dewasa ini adalah membangun kacangan sebagai penutup tanah pada tanaman TBM atau lebih dianjurkan sebelum tanaman karet ditanam. Hasil penelitian kacangan sebagai penutup tanah menunjukkan bahwa tanaman kacangan ternyata dapat mengurangi tingkat serangan JAP. Hal ini disebabkan penutup tanah kacangan dismaping dapat mempercepat pembusukan sisa-sisa akar juga mendorong atau meningkatkan mikroba tanah seperti Actinomycetes atau jamur-jamur lain yang bersifat antagonis terhadap Rigidoporus lignosus.

2). Pengendalian Biologi
Pengendalian biologis dengan bahan biofungisida TRIKO SP plus merupakan tindakan preventif untuk mencegah meluasnya penyakit JAP. Biofungisida TRIKO plus mengandung dua agensia yang bersifat antagonis terhadap JAP dan bersifat dekomposisi dapat digunakan sejak awal, mulai dari pencampuran tanah pengisi lubang tanam pada saat menanam kemudian diikuti dengan penaburan di sekeliling pohon sejak tanaman berumur 6 bulan di lapangan. TRIKO Plus ditabur di sekeliling pangkal pohon hingga radius 50 cm dengan interval 6 bulan selama TBM minimal 6 kali tergantung banyaknya sumber infeksi di lapangan.
Cara pengaplikasi Trico-SP, bahan berbentuk serbuk yang mengandung Trichoderma sp ini dicoba pada tanaman muda dan sudah menghasilkan. Penggunaan 50 gram/pohon diberikan untuk pencegahan serangan JAP pada tanaman saat di polibag dan saat ditanam di lapangan, sementara 100gram/pohon diberikan pada pohon yang sudah terserang. Bahan ini dicampur dengan tanah di polibag dan di lubang tanam, sementara untuk tanaman yang sudah menghasilkan, terlebih dahulu dibuat parit keliling radius 0.5 m dari pangkal pohon yang akan diisi oleh Trico-SP dan ditutup kembali dengan tanah.


3). Pengendalian Kimiawi
Pengendalian penyakit JAP secara kimiawi merupakan tindakan kuratif yang dilakukan pada tanaman sakit. Penggunaan bahan kimia semula aplikasinya dilakukan dengan cara pelumasan (pointing) menggunakan bahan fungisida Collar Protectant (CP) dengan bahan aktif Penta Chloro Nitro Benzene (PCNB) seperti Fomac 2, Ingropasta, Shell Collar Protectant dan fungisida Tridemorf (Calixin CP). Aplikasi dengan cara pelumasan ini sulit untuk dilaksanakan karena harus membuka perakaran terlebih dahulu dan keterbatasan tenaga. Kemudian dengan berkembangnya teknologi maka aplikasi fungisida dilakukan dengan cara penyiraman (Dranching). Fungisida yang efektif terhadap JAP adalah Bayleton 250 EC dengan dosis 10-15 cc/liter air/pohon/aplikasi dengan interval aplikasi 4 bulan. Bagi pohon karet yang mengalami infeksi berat aplikasi fungisida dianjurkan dengan cara pelumasan dengan membuka leher akar terlebih dahulu. Cara pelumasan ini ndapat digunakan fungisida Bayleton 250 EC yang dicampur dengan kaolin dan Agristick. Bahan campuran ini mudah diaplikasikan sehingga dalam pelaksanaannya tidak mengalami kesulitan. Dalam konsepsi pengendalian penyakit secara terintegrasi, penggunaan pestisida masih tetap diperlukan. Oleh sebab itu monitoring untuk mengetahui serangan penyakit secara dini merupakan langkah awal keberhasilan pengendalian penyakit.
Cara pengaplikasian Bayleton, Bayleton 5 cc/l dicampur dengan air sampai menjadi satu liter, disiramkan di sekitar pangkal pohon dengan sebelumnya membuat parit keliling agar campuran bayleton tersebut dapat terserap hingga ke daerah perakaran tanaman. Berdasarkan umur tanaman, campuran bayleton tersebut diberikan sebanyak 250 ml/pohon (< 1 tahun), 500 ml/pohon (2-3 tahun) dan 1000 ml/pohon > 3 tahun). Pada perlakuan pengobatan diberikan 1000 ml/pohon yang diulang setiap enam bulan sekali.
Berdasarkan hasil pengamatan satu tahun setelah aplikasi, pada kasus pohon per pohon, dimana hanya beberapa pohon dengan tetangga terdekatnya yang diobati, kematian karet pada sub plot yang diberi perlakuan bayleton sebesar 5.3%, sedangkan sub plot dengan perlakuan Trico-SP adalah sebesar 8.1%. Aplikasi bayleton dan Trico-SP pada semua pohon dalam plot memperlihatkan kematian satu tahun setelah aplikasi sebesar 5.3% dan Trico-SP sebesar 5.1%. Dengan relatif rendahnya tingkat kematian setelah satu tahun pengobatan, dua cara pengendalian tersebut sangat diperlukan untuk menahan dan mengontrol serangan JAP, terutama dalam penggabungan penggunaan Trico-SP di tingkat pencegahan dan Bayleton pada pengobatan lebih lanjut.
Dilakukan pada saat serangan dini dan dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Pengobatan dilakukan dengan cara menggali tanah pada daerah leher akar, kemudian leher akar diolesi dengan fungisida dan tanah ditutup kembali dengan tanah 2-3 hari setelah aplikasi. Jenis fungisida dan alternatif penggunaannya adalah sebagai berikut:
  1. Pengolesan : Calixin CP, Fomac 2, Shell CP dan Ingro Pasta 20 PA.
  2. Penyiraman: Alto 100SL, Anvil 50 SC, Bayfidan 250 EC, Bayleton 250 EC, Sumiate 12.5 WP, Tilt 250 EC dan Calixin 750 EC.
  3. Penaburan: Belerang, Bayfidan 3G, Anjap P, Biotri P dan Triko SP+.
  4. Pada areal tanaman yang mati sebaiknya dilakukan pembongkaran tunggul dan diberikan belerang sebanyak 200 gr, agar jamur yang ada mati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar