Jumat, 30 November 2012

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM PESTISIDA DAN APLIKASINYA “Cara Kerja Pestisida dalam Air”


I.                   PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

     Pestisida merupakan suatu bahan yang banyak dijumpai dan digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari untuk berbagai tujuan penggunaan termasuk perlakuan yang bersifat pencegahan maupun untuk tujuan pengendalian organisme pengganggu pada hampir semua sektor dalam masyarakat, diantaranya sektor kesehatan, pertanian, kehutanan, perikanan, perdagangan, perindustrian, ketenagakerjaan, perhubungan, lingkungan hidup dan di rumah tangga. Tidak hanya di bidang pertanian, pengunaaan pestisida dalam rumah tangga Indonesia sudah demikian luas juga. Berbagai merek “obat” serangga dapat kita temui di etalase supermarket hingga warung kecil, memudahkan kita untuk mengakses racun ini dan memasukkannya ke dalam rumah kita. Pestisida dalam rumah tangga biasanya digunakan untuk mengatasi semut, mengatasi kecoa, mengusir lalat, mengatasi ngengat, mengatasi tikus, mengatasi nyamuk. Walau banyak laporan dan penelitian tentang dampak negatif pestisida ini (pada manusia dan lingkungan), seolah kita tidak punya pilihan lain selain menyemprot hama pengganggu (dan pembawa penyakit) ini dengan “obat” hama. Sekalipun sebagai bahan beracun (biosida) yang memiliki potensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, pestisida banyak digunakan karena mempunyai kelebihan-kelebihan antara lain dapat diaplikasikan dengan mudah pada hampir semua tempat dan waktu, hasilnya dapat dirasakan dalam waktu yang relatif singkat, dan dapat diaplikasikan dalam areal yang luas.
Pestisida dapat merusak keseimbangan ekologi, dinamika pestisida dilingkungan yang membentuk suatu siklus, terutama jenis pestisida yang persisten. Penggunaan pestisida oleh petani dapat tersebar di lingkungan sekitarnya; air permukaan, air tanah, tanah dan tanaman. Sifat mobil yang dimiliki akan berpengaruh terhadap kehidupan organisme non sasaran, kualitas air, kualitas tanah dan udara.
Kondisi tanah di Lembang dan Pengalengan Jawa Barat berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Theresia (1993) sudah tercemar pestisida.
Penggunaan pestisida dan tertinggalnya residu dapat sangat menurunkan populasi hewan tanah. Dibandingkan dengan besarnya kandungan residu pestisida dalam tanah, kandungan pestisida dalam air memang lebih rendah. ( Panut, Djojosurmarto. 2000 )
Tanpa kita sadari terdapat berbagai jenis pestisida yang tersimpan dirumah. Pestisida ini bukan saja digunakan di dalam rumah tetapi juga digunakan dihalaman rumah dan kebun untuk melindungi tanaman dari gulma dan hewanperusak lainnya. Anak-anak merupakan korban utama pada kasus racunanini karena rasa keingin tahuannya yang tinggi dan tingkah lakunya yaitu senang sekali memasukan apa saja yang ditemui ke dalam mulutnya.
Memperhatikan hal-hal tersebut diatas maka merupakan suatu keharusan bahwa pestisida perlu dikelola dengan sebaik-baiknya agar dapat diperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dengan dampak negatif yang sekecil-kecilnya. Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam khususnya kekayaan alam hayati maka dalam pengelolaan pestisida antara lain adalah peraturan pemerintah nomor 7 tahun 1973. berdasarkan peraturan pemerintah tersebut, maka setiap pestisida yang akan diedarkan, disimpan dan digunakan harus terlebih dahulu terdaftar dan memperoleh izin menteri pertanian. Mengacu pada peraturan pemerintah tersebut, menteri pertanian telah mengeluarkan beberapa keputusan yang bersifat kebijaksanaan dalam kaitannya dengan pengelolaan pestisida, antara lain keputusan menteri pertanian nomor 434.1 tahun 2001 tentang syarat dan tata cara pendaftaran pestisida, dan keputusan menteri pertanian nomor 517 tahun 2002 tentang pengawasan pestisida. (Setiana, Lucie. 2005)


B.     Tujuan
Mengamati dampak pestisida terhadap lingkungan khususnya makhluk hidup air.



II.                HASIL DAN PEMBAHASAN

a.      Hasil

No
Jenis Ikan
Jenis Pestisida
Perilaku Ikan
Waktu reaksi
1
Golden Fish
Deterjen
15 menit ikan lemas
21 Menit
2
Ikan mas koki
Body Lotion
5 menit ikan kejang-kejang
19 menit 31 dtk
3
Golden Fish
Baygon
Lemas
2-3 jam
4
Ikan Gabus
Autan
Kejang-kejang
2-3 jam
5
Ikan mas koki
Shampo
5 menit ikan lemas
2-3 jam
6
Ikan gabus
Insektisida
Tanpak Panik
2-3 jam


B.     Pembahasan

Dalam bidang pertanian pestisida merupakan sarana untuk membunuh jasad pengganggu tanaman. Dalam konsep Pengendalian Hama Terpadu, pestisida berperan sebagai salah satu komponen pengendalian, yang mana harus sejalan dengan komponen pengendalian hayati, efisien untuk mengendalikan hama tertentu, mudah terurai dan aman bagi lingkungan sekitarnya. Penerapan usaha intensifikasi pertanian yang menerapkan berbagai teknologi, seperti penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan, pola tanam serta usaha pembukaan lahan baru akan membawa perubahan pada ekosistem yang sering kali diikuti dengan timbulnya masalah serangan jasad penganggu. Cara lain untuk mengatasi jasad penganggu selain menggunakan pestisida kadang-kadang memerlukan waktu, biaya dan tenaga yang besar dan hanya dapat dilakukan pada kondisi tertentu. Sampai saat ini hanya pestisida yang mampu melawan jasad penganggu dan berperan besar dalam menyelamatkan kehilangan hasil.
Dalam hal ini penggunaan produk seperti : Body lotion, shampo dll tentunya sangat aman bagi manusia tetapi apabila sampah atau bekas produk-produk ini dibuang ke air maka akan terjadi pencemaran air tentunya dalam itu jika  dalam jumlah yang banyak. Ekologi air akan terganggu sperti ikan dan tanaman laut akan mati karena terkena bahan aktif dari produk-produk tersebut. Ada empat rute utama di mana pestisida mencapai air: mungkin drift luar daerah dimaksud ketika disemprotkan, mungkin meresap, atau pencucian, melalui tanah, mungkin akan dibawa ke air sebagai aliran, atau mungkin tumpah, misalnya sengaja atau melalui kelalaian. Mereka juga dapat dilakukan untuk air dengan tanah mengikis . Faktor-faktor yang mempengaruhi pestisida kemampuan untuk mencemari air termasuk air yang larut , jarak dari sebuah situs aplikasi ke tubuh air, cuaca, jenis tanah, kehadiran tanaman tumbuh, dan metode yang digunakan untuk menerapkan kimia. Ikan dan biota air lainnya dapat dirugikan oleh pestisida-air yang terkontaminasi. Pestisida aliran permukaan ke sungai dan sungai dapat sangat mematikan bagi kehidupan air, kadang-kadang membunuh semua ikan di aliran tertentu. 
Aplikasi herbisida untuk badan air dapat menyebabkan ikan membunuh saat tanaman membusuk mati dan menggunakan Facebook air oksigen, mencekik ikan. Beberapa herbisida, seperti sulfit tembaga, yang diterapkan pada air untuk membunuh tanaman yang beracun untuk ikan dan hewan air lainnya pada konsentrasi yang sama dengan yang digunakan untuk membunuh tanaman. paparan berulang dosis subletal beberapa pestisida dapat menyebabkan perubahan fisiologis dan perilaku pada ikan yang mengurangi populasi, seperti meninggalkan sarang dan merenung, penurunan kekebalan terhadap penyakit , dan peningkatan kegagalan untuk menghindari predator. Aplikasi herbisida untuk badan air dapat membunuh tanaman yang bergantung pada habitat ikan mereka  Pestisida dapat terakumulasi dalam badan air ke tingkat yang membunuh zooplankton , sumber utama makanan bagi ikan muda.






III.              KESIMPULAN

A.    Kesimpulan
1.      Cara kerja untuk pestisida bermacam-macam diantaranya ; Penyemprotan (spraying), dusting, penuangan atau penyiraman (pour on), injeksi batang, dipping, fumigasi, Impregnasi.
2.      Masing-masing cara kerja pestisida memiliki keunggulan dalam hal keefektifan memberantas serangga sasaran.
3.      Feromon adalah sejenis zat kimia yang berfungsi untuk merangsang dan memiliki daya pikat seks pada hewan jantan maupun betina.
4.      Baygon lebih efektif dalam membrantas seranga kecoa ketimbang kita menggunakan kapur.




DAFTRA PUSTAKA

Fardiaz, Dedi. 1989. Kromatografi Gas Dalam Analisis Pangan. Penerbit IPB.                            Bandung
Panut, Djojosurmarto. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Penerbit kanisius. Yogyakarta.
Sastraatmadja, Entang. 1993. Penyuluhan Pertanian. Penerbit Alumni. Bandung.
Setiana, Lucie. 2005. Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat. Ghalia Indonesia. Jakarta.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar