Jumat, 30 November 2012

Informasi Organisme Pengganggu Tanaman Ulat api DARNA SPP


Ulat api Darna spp. terdiri dari beberapa spesies yaitu Darna(Orthocraspeda) trima Moore, Darna catenatus, Darna (Ploneta) diductaSnellen, Darna (Ploneta) bradleyi, Darna (Oxyplax) pallivitta Moore,Darna (Darna) metaleuca Walker, Darna (Orthocraspeda) bornesordida, Darna (Orthocraspeda) tuaranensis Holloway. Dari kedelapan spesiesDarna, yang umum menyerang dan terdapat di perkebunan kelapa sawit adalah D. trima, D. catenatus, D. diducta, dan D. bradleyi.
Darna (Orthocraspeda) trima Moore Biologi
Ulat api Darna trima mempunyai siklus hidup sekitar 60 hari (Hartley, 1979). Pada instar 2-3 larva memakan daun mulai dari ujung ke arah bagian pangkal daun. Darna trima, larva mengikis daging daun dari permukaan bawah dan menyisakan epidermis daun bagian atas, sehingga akhirnya daun yang terserang berat akan mati kering seperti bekas terbakar. Larva menyukai daun kelapa sawit tua, tetapi apabila daun-daun tua sudah habis larva juga memakan daun-daun muda. Ngengat aktif pada senja dan malam hari, sedangkan pada siang hari hinggap di pelepah-pelepah daun tua dengan posisi terbalik (kepala di bawah). Darna trima, di waktu siang hari, ngengat suka hinggap di daun-daun yang sudah kering dengan posisi kepala di bawah dan sepintas seperti ulat kantung.
Darna trima hanya berpupa di ketiak daun atau pelepah daun. Pengetahuan mengenai biologi dan perilaku sangat penting ketika akan menerapkan tindakan pengendalian hama sehingga efektif. Kokon dapat dijumpai menempel pada helaian daun, di ketiak pelepah daun atau di permukaan tanah sekitar pangkal batang dan piringan (Susanto et al.,2006).
Ngengat
Ngengat berwarna coklat gelap dan lebar rentangan sayap sekitar 18 mm. Sayap depan berwarna coklat gelap dengan sebuah bintik kuning dan empat garis hitam. Sayap belakang berwarna abu- abu tua. Ngengat aktif pada malam hari (nokturnal), sedangkan pada siang hari suka hinggap di daun-daun yang sudah kering dengan posisi kepala di bawah dan sepintas seperti ulat kantong (Sudharto, 1991).
Telur
Telur bulat kecil, berukuran sekitar 1,4 mm, berwarna kuning kehijauan dan diletakkan secara individual di permukaan helai daun kelapa sawit, terutama permukaan sebelah bawah. Sepintas telur D. trima seperti tetesan minyak yang melekat di daun kelapa sawit dan sulit untuk dilihat. Seekor ngengat dapat meletakkan telur sebanyak 90 butir, tetapi pada waktu eksplosif dapat mencapai 300 butir. Telur menetas dalam waktu 3 – 5 hari (Sudharto, 1991).
Larva
Larva yang baru menetas berwarna putih kekuningan kemudian menjadi coklat muda dengan bercak-bercak jingga, dan berwarna coklat gelap pada bagian punggung apabila telah tua. Panjang larva 13-15 mm. Stadia larva berlangsung selama 26 – 33 hari, umumnya menyerang daun tua pada tanaman muda dan dewasa (Sudharto, 1991).


Kepompong
Menjelang berkepompong larva membentuk kokon dari air liurnya dan berkepompong di dalam kokon tersebut. Kokon dapat dijumpai di pangkal helaian daun, di ketiak pelepah daun atau di permukaan tanah sekitar pangkal batang dan piringan. Kokon berwarna cokelat, ditutupi serat-serat halus mirip sutera, berbentuk oval dengan diameter 5-6 mm dan lebar 3 mm. Lama stadia kepompong sekitar 10 – 14 hari (Sudharto, 1991). Siklus hidup D. trima keseluruhan selama 2 bulan.
Darna catenatus
Jenis ini dijumpai terbatas di Sulawesi, dapat menyebabkan kerusakan berat pada daun. Larva pada instar awal berwarna kehijauan, selanjutnya terdapat garis kebiruan di punggung, bagian tengah larva mengecil, panjangnya 14-15 mm, lebarnya 5-7 mm. Ngengat betina kelabu, rentang sayapnya 10-14 mm, dan yang jantan berwarna lebih terang dengan rentang sayap 8-10 mm. Kepompongnya agak bulat, berwarna cokelat muda, berukuran 7 x 5 mm, melekat di bagian bawah daun, disepanjang tulang daun atau di pangkal pelepah. Telurnya ± 300 butir. Siklus hidupnya 38-49 hari, stadium larva 25-30 hari. Siklus hidupnya 38-49 hari, stadium larva 25-30 hari.
Darna (Ploneta) diducta Snellen

Ngengat
Ngengat berwarna coklat tua, dengan rentangan sayap sedikit lebih lebar dibandingkan D. trima yakni sekitar 24 mm. Perilaku ngengat ini hampir sama dengan ngengat D. trima (Sudharto, 1991).
Telur
Telur hampir sama dengan telur D. trima dan setiap ngenngat betina mampu meletakkan telur sekitar 60 butir, tetapi pada keadaan eksplosif dapat mencapai 225 butir. Telur menetas dalam waktu 4 – 6 hari (Sudharto, 1991).
Larva
Larva muda sulit dibedakan dengan D. trima dan biasanya populasi kedua jenis ini bercampur pada tanaman kelapa sawit. Larva tua berwarna coklat dengan bercak- bercak putih di punggungnya. Jenis ini ada kecenderungan menempati strata yang sedikit lebih atas pada tajuk daun kelapa sawit dibandingkan D. trima. Stadia larva berlangsung selama 30 – 37 hari, dan mampu menghabiskan helaian daun seluas 165 cm2. Larva mudanya berukuran panjang 15-18 mm dan lebar 7-13 mm, berwarna kelabu hingga cokelat kemerahan dengan garis kekuningan di punggung membentuk semacam jaring, dan memiliki bercak hitam berbentuk segi tiga sama sisi. Pada punggung ada 3 pasang bercak kuning, bercak tengah lebih besar. Larva muda menggerus kulit ari daun, selanjutnya memakan keseluruhan anak daun mulai dari ujung daun-daun bawah. (Sudharto, 1991).



Kepompong
Perilaku berkepompong hampir sama dengan D. trima, demikian juga lamanya stadia kepompong yakni berkisar antara 11 – 14 hari. Kepompongnya berukuran 10 x 8,3 mm, berwarna cokelat, ditutupi tenunan benang-benang mirip sutera, berada pada pangkal pelepah atau di bagian pangkal batang. Jenis ini kerap ditemukan bersama jenisDarna lainnya. Siklus hidup D. diducta secara keseluruhan berkisar ±45-57 hari, termasuk stadium larva 30-37 hari (Sudharto, 1991).
Darna diducta berperan sebagai hama pada tanaman Cocos dan Metroxylon, akan tetapi juga menyerang tanaman palem-paleman termasuk kelapa sawit (Elaeis) dan Pinang. Hama ini memiliki inang alternatif yaitu Musa sp. (Musaceae), Carica sp. (Caricaceae), Annonasp. (Annonaceae), Theobroma sp. (Sterculiaceae), Nephelium sp. (Sapindaceae), Eugenia sp. (Myrtaceae) dan Michelia sp. (Magnoliaceae).
Darna (Ploneta) bradleyi
Jenis ini sering dijumpai di Sumatera dan Kalimantan, menyerang mulai dari daun bawah. Perbedaan antara keduanya terletak pada warna ngengatnya dan pola bercak-bercak pada punggung larva. Ngengat D. bradleyi berwarna coklat muda, dengan sisik-sisik yang lebih halus serta sedikit lebih kecil.
Larva muda memanjang dengan punggung berwarna gelap dengan dua garis putih kekuningan di bagian samping, selanjutnya terdapat bercak kuning di tengah punggung, panjangnya 15 mm. Ngengat jantan berwarna kelabu dengan rentang sayap 9-10 mm, dan yang betina lebih pucat dengan rentang sayap 11-12 mm. Kepompong berwarna cokelat tertutup benang-banang halus mirip sutera, oval, berukuran 7 x 6 mm. Telur diletakkan di permukaan bawah daun, berkelompok ± 10 butir, bening. Siklus hidupnya 44-48 hari, dimana stadium larva berlangsung 30 hari.


GEJALA SERANGAN Darna spp. DAN TINGKAT SERANGANNYA
Serangan Darna spp. di lapangan umumnya mengakibatkan daun kelapa sawit habis dengan sangat cepat dan berbentuk seperti melidi (Gambar 10). Tanaman tidak dapat menghasilkan tandan selama 2 – 3 tahun jika serangan yang terjadi sangat berat.
Umumnya gejala serangan dimulai dari daun bagian bawah hingga akhirnya helaian daun berlubang habis dan bagian yang tersisa hanya tulang daun saja. Ulat api ini sangat rakus, mampu mengkonsumsi 300–500 cm2 daun sawit per hari. (Sudharto, 1991).

PENGENDALIAN
Pengendalian yang dilakukan dalam mengontrol populasi Darna spp. dengan menggunakan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) (Susanto et al., 2010). Konsep ini bertumpu pada monitoring dan sensus populasi hama di lapangan.
Pengendalian populasi di bawah ambang ekonomi :Pengendalian dilakukan secara hayati
Beberapa agens antagonis telah banyak digunakan untuk mengendalikan ulat api. Agens antagonis tersebut adalah Bacillus thuringiensis, Cordyceps militaris dan virus Multi-Nucleo Polyhydro Virus (MNPV). Wood et al., (1972) menemukan bahwa bakteri B. thuringiensis efektif melawan Darna trima dengan tingkat kematian 90% dalam 7 hari.
Virus MNPV digunakan untuk mengendalikan larva ulat api. Penggunaan larutan virus sebanyak 400 gram ulat terinfeksi virus per hektar cukup efektif serta 3,6 kali lebih murah dibandingkan dengan penggunaan pestisida. Walaupun pengaruhnya tidak secepat pestisida, akan tetapi kesesuaiannya sebagai metode pengendali yang ber-kesinambungan sangat tepat (Sudharto, 1991).
Selain beberapa entomopatogen di atas, populasi ulat api dapat stabil secara alami di lapangan oleh adanya musuh alami yaitu, predator dan parasitoid. Predator ulat api yang sering ditemukan adalahEochantecona furcellata (Hemiptera: Pentatomidae) dan Sycanus leucomesus (Hemiptera: Reduviidae).

Parasitoid dapat diperbanyak dan dikonservasi di perkebunan kelapa sawit dengan menyediakan makanan bagi imago parasitoid tersebut seperti Antigonon leptopus (Gambar 12),Turnera subulata (Gambar 13),Turnera ulmifolia, Euphorbia heterophylla, Cassia tora, Boreria alatadan Elephantopus tomentosus. Oleh karena itu, clean weeding tidak dianjurkan dan tanaman-tanaman tersebut hendak-nya tetap ditanam dan jangan dimusnahkan. Tiong (1977) juga melaporkan bahwa adanya penutup tanah dapat mengurangi populasi ulat api karena populasi musuh alami akan meningkat.

Source    : Donnarina Simanjuntak; Sudharto; A. Sipayung; R. Desmier de Chenon; A. E. Prasetyo; Agus Susanto.  - Ulat Api Darna trima Moore

1 komentar:

  1. artikelnya bagus cukup detail dan begitu membantu, khusus pekebun sawit dan petugas lapangan, jika bisa artikel tentang OPT kelapa dalam, TQ

    BalasHapus